|
Setiap bangunan memerlukan fondasi yang baik—begitu juga dengan bangunan hidup Anda. Pelajaran-pelajaran dalam program ini adalah “batu fondasi” yang di atasnya Anda dapat membangun rumah dari kehidupan kekristenan Anda.
Kelas-kelas ini ideal untuk anak-anak usia 6 hingga 9 tahun. Klik di sini untuk mengunduh kelas "12 Batu Fondasi" untuk anak-anak yang lebih besar (usia 9 tahun ke atas)
0 Comments
Pernahkah Anda menaruh sebatang seledri di dalam air yang diberi warna? Yang terjadi adalah seledri mulai berubah warna ketika air terendam melalui batang. Dibutuhkan beberapa hari untuk melihat perubahannya, tetapi segera batang seledri akan berwarna seperti air yang merendamnya. Seledri juga dengan sangat cepat menyerap racun dan pestisida apa pun di udara atau di tanah. Roh kita juga bekerja dengan cara seperti ini. Sumber makanan atau masukan kita, dan apa pun yang kita paparkan pada diri kita sendiri, akan mempengaruhi kita, menjadi lebih baik atau lebih buruk. Kita terus menerus dibanjiri dengan masukan—melalui Internet, film, musik, buku, dan tentu saja, melalui orang yang dengannya kita berinteraksi. Namun, bagaimana hal-hal itu mempengaruhi kita tidak selalu sejelas efek air pada seledri. Beberapa hal tampaknya tidak berbahaya, atau bahkan baik, tetapi pada akhirnya dapat memiliki efek negatif. Hal-hal lain mungkin benar-benar menyenangkan dan tidak berbahaya—bahkan dapat memberi masukan untuk pikiran dan meningkatkan keterampilan dan pengetahuan kita. Tetapi masukan tersebut mungkin masih belum cukup untuk memberi makan roh kita dengan substansi yang dibutuhkan untuk berkembang.
Itulah sebabnya mengapa Yesus mengatakan agar tinggal di dalam Dia, menjadikan Dia sumber kita. Dia menawarkan untuk menyirami hidup—satu-satunya air yang akan membuat roh kita tidak akan pernah haus lagi. Mazmur pertama mengatakan bahwa mereka yang bergembira di dalam jalan Tuhan dan Firman-Nya “seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” (Mazmur 1:3)
Marilah kita menanam akar kita dengan kokoh pada sungai yang mengalirkan air hidup.
Rut adalah menantu Naomi, yang keluarga Yahudinya bermigrasi ke Moab ketika Israel mengalami kelaparan, dan pada tahun-tahun berikutnya, suaminya dan kedua anak lelakinya telah meninggal. Sejauh ini, Naomi tidak beruntung, dan sekarang sendirian di dunia, dia memutuskan untuk kembali ke Israel.
Rut memilih untuk pergi bersama Naomi, berjanji untuk menjadikan bangsa Naomi bangsanya, dan Tuhan Naomi, Tuhannya. Ketika mereka kembali ke Israel, mereka hanya berusaha untuk bertahan hidup. Rut pergi ke ladang untuk memungut butiran jelai yang ditinggalkan para pemanen. Ladang itu milik seorang lelaki bernama Boas, yang terkesan dengan integritas Rut karena tidak meninggalkan Naomi, dan menikahinya. Boas dan Rut menjadi kakek buyut Raja Daud, dan nenek moyang Yesus. Tidak ada keajaiban dalam cerita ini, tidak ada kejadian supranatural apapun, tapi tangan Tuhan jelas ada di setiap bagian cerita. Saat Naomi dan Rut berusaha untuk bertahan hidup, saat mereka menjalani kehidupan yang saleh, tujuan Tuhan bagi mereka tercapai.
Saya percaya bahwa sering kali demikian pula dengan kita. Kehendak Tuhan biasanya bukanlah sesuatu yang menimpa kita dengan gembar-gembor; kehendak Tuhan adalah tujuan yang tercapai saat kita melakukan yang terbaik untuk hidup menurut kebenaran Tuhan dalam keadaan kita yang biasa, melakukan hal-hal sehari-hari. Beberapa kehidupan, seperti pembaruan spiritual besar Martin Luther, terganggu oleh panggilan atau misi khusus yang tiba-tiba, tetapi bagi banyak dari kita, kita akan melihat tangan Tuhan dalam hidup kita saat kita mengambil setiap langkah setiap hari, menyerahkan setiap hari ke dalam pemeliharaan-Nya.
Mulailah menemukan rencana Tuhan dengan mengundang Anak-Nya, Yesus ke dalam hidup Anda hari ini. Anda bisa mengucapkan doa sederhana berikut ini: Yesus, aku memohon agar Engkau masuk ke dalam hatiku, mengampuni dosa-dosaku, dan memberikan anugerah cuma-cuma berupa hidup yang kekal! Penuhilah kiranya aku dengan Roh Kudus-Mu dan tolonglah aku untuk mengasihi-Mu dan orang lain.
Bayangkanlah seorang pengelana, duduk diam-diam di perahu yang melaju di sungai yang berkelok-kelok melalui lembah hijau. Pohon dan semak belukar, ada yang berbunga, memenuhi tepian sungai. Puncak gunung yang anggun berselimutkan salju di kejauhan. Namun pengelana ini tidak menyadari keindahan yang ada di sekitarnya; sebab ia terlalu sibuk mempelajari buku panduannya, mempelajari sejarah dari daerah di mana ia berada dan ke mana sungai itu akan membawanya.
“Lihatlah! Anda tidak melihat kecantikan alam!” Kami berseru kepadanya, tetapi tidak berhasil. Dia terus saja membaca, dengan kepala yang tertunduk dan pikirannya menerawang ke mana-mana. Ada masanya kita harus mempelajari buku panduan, namun ada pula waktu di mana kita harus mengingat masa lalu atau masa depan, tetapi ada pula waktu di mana kita harus berhenti dan menikmati momen-momen itu.
Minggu depan, ambillah waktu lima atau sepuluh menit setiap hari untuk mengamat-amati dunia di sekitar Anda. Tempatkan perhatian pada awan putih yang bagaikan kapas itu seraya awan-awan itu melayang-layang menyeberangi langit biru. Pelajarilah rancangan yang rumit dari kelopak bunga, atau guratan pada batang pohon, atau pola sekawanan burung yang terbang. Carilah sesuatu yang berbeda setiap hari, dan ucapkanlah syukur kepada Tuhan atas kreativitas-Nya.
|
Categories
All
Archives
May 2026
|
||||||||||||||||||||






RSS Feed