|
Buku komik gratis tentang kehidupan Yesus untuk anak-anak, dengan teks yang mudah dipahami dan penjelasan istilah-istilah penting. Ditulis dan diilustrasikan oleh Willem de Vink.
Klik tautan untuk membaca buku atau mengunduhnya Bahasa Indonesia (T) (Indonesia) (ind) comic book “Kisah Yesus sang Mesias” Bahasa Indonesia (C) (Indonesia) (ind) comic book “Isa Al Masih”
Setiap bangunan memerlukan fondasi yang baik—begitu juga dengan bangunan hidup Anda. Pelajaran-pelajaran dalam program ini adalah “batu fondasi” yang di atasnya Anda dapat membangun rumah dari kehidupan kekristenan Anda.
Setiap batu fondasi mengupas bidang iman, pengetahuan Alkitab atau pengetahuan praktikal, dan hendaknya membawa perubahan yang positif dalam hidup Anda. Perubahan-perubahan ini tidak hanya bermaanfaat bagi Anda tetapi juga bagi mereka yang Anda kasihi, memperlengkapi Anda untuk menolong orang lain.
Sebatang pohon tertimpa angin kencang dan ia tumbang ke tanah yang keras.
Saat menghantam tanah lembap dengan bunyi yang keras—karena sebelumnya tidak pernah menghantam apa pun, hanya bergoyang pelan tertiup angin—ia secara naluriah tahu bahwa ia tidak akan bangkit lagi. Pohon itu terisak, antara sakit, sedih, marah, dan frustrasi. Ia melihat pohon-pohon lain masih berdiri dan menangis. Ia berbaring lama di antara cabang-cabangnya yang patah, terlelap, seolah merenungkan apa yang harus dilakukan dengan tubuhnya yang besar itu. Kemudian, perlahan-lahan ia menumbuhkan beberapa tunas. Tunas-tunas itu tumbuh menjadi ranting, yang kemudian menjadi cabang, semuanya menjulang ke langit, mencoba memulihkan kemampuan alami antena yang dimiliki sebelumnya. Ia melakukan apa yang bisa dilakukannya dan membiarkan waktu untuk melakukan yang selebihnya. Tak lama kemudian, pohon itu menemukan tujuan baru. Anak-anak kecil memilihnya untuk bermain “kuda-kudaan” atau berpura-pura bahwa itu adalah istana; pohon itu menjadi latar foto favorit, taman bermain, dan tempat berlindung. Para pendaki dan tupai sama-sama menggunakannya untuk menjembatani sungai. Maka, pohon itu menemukan kehidupan baru, kehidupan yang bahagia—meskipun sangat berbeda dari yang pernah dikenalnya sebelumnya—dan ia menyadari bahwa inilah takdirnya.
Hujan turun deras sejak saat itu, dan pohon tumbang itu masih tergeletak di tanah, memperlihatkan cabang-cabangnya. Lumut telah menutupi luka-luka akibat tumbangnya. Seiring waktu, lumut telah menjadi elemen lanskap yang indah dan penting, sedemikian rupa sehingga para pembangun taman mempertimbangkannya saat mereka merancang taman tersebut.
Sesekali pohon itu mengenang dan berpikir, lalu ber syukur atas hari ketika takdir melampiaskan amarahnya. Meskipun ia takkan pernah kembali seperti dulu, atau seperti pohon-pohon lainnya, ia merasa puas, mengetahui bahwa ia telah menemukan tempat dan perannya sendiri, dan bahwa masa depannya ada di tangan Sang Pencipta. Mungkinkah ini juga kisah kita? Meskipun hidup kita biasanya tidak berjalan seperti yang kita harapkan, hasilnya mungkin akan lebih kaya, lebih mendalam, dan lebih bermakna saat kita membiarkan Tuhan menggunakan badai sesuai kehendak-Nya. Tuhan mendapatkan beberapa kemenangan terbesar dari kekalahan kita.
Pernahkah Anda menaruh sebatang seledri di dalam air yang diberi warna? Yang terjadi adalah seledri mulai berubah warna ketika air terendam melalui batang. Dibutuhkan beberapa hari untuk melihat perubahannya, tetapi segera batang seledri akan berwarna seperti air yang merendamnya. Seledri juga dengan sangat cepat menyerap racun dan pestisida apa pun di udara atau di tanah. Roh kita juga bekerja dengan cara seperti ini. Sumber makanan atau masukan kita, dan apa pun yang kita paparkan pada diri kita sendiri, akan mempengaruhi kita, menjadi lebih baik atau lebih buruk. Kita terus menerus dibanjiri dengan masukan—melalui Internet, film, musik, buku, dan tentu saja, melalui orang yang dengannya kita berinteraksi. Namun, bagaimana hal-hal itu mempengaruhi kita tidak selalu sejelas efek air pada seledri. Beberapa hal tampaknya tidak berbahaya, atau bahkan baik, tetapi pada akhirnya dapat memiliki efek negatif. Hal-hal lain mungkin benar-benar menyenangkan dan tidak berbahaya—bahkan dapat memberi masukan untuk pikiran dan meningkatkan keterampilan dan pengetahuan kita. Tetapi masukan tersebut mungkin masih belum cukup untuk memberi makan roh kita dengan substansi yang dibutuhkan untuk berkembang.
Itulah sebabnya mengapa Yesus mengatakan agar tinggal di dalam Dia, menjadikan Dia sumber kita. Dia menawarkan untuk menyirami hidup—satu-satunya air yang akan membuat roh kita tidak akan pernah haus lagi. Mazmur pertama mengatakan bahwa mereka yang bergembira di dalam jalan Tuhan dan Firman-Nya “seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” (Mazmur 1:3)
Marilah kita menanam akar kita dengan kokoh pada sungai yang mengalirkan air hidup.
Peradaban kuno mengembangkan mitologi yang diberi “bumbu” untuk menjelaskan matahari yang menghilang. Dongeng mereka meliputi katak, serigala, atau anjing api yang memakan matahari. Beberapa menuduh bulan mencoba mencuri matahari. Beberapa orang di Togo percaya bahwa matahari dan bulan sedang berperang dan satu-satunya cara untuk menghentikan mereka adalah berdamai dengan musuh-musuh mereka. Beberapa menuduh mata hari mencoba mencuri mata manusia, atau merasa bahwa keluar rumah saat terjadi gerhana merupa kan pertanda buruk bagi wanita hamil. Suku Indian Navajo percaya bahwa gerhana adalah bagian dari tatanan alam dan mereka berpuasa serta bernyanyi di dalam rumah.
Kita sekarang memahami apa yang terjadi selama gerhana. Situs web science.nasa.gov menyatakan: “Gerhana matahari total terjadi ketika Bulan melintas di antara Matahari dan Bumi, sehingga menutupi seluruh permukaan Matahari. Langit akan menjadi gelap seolah-olah fajar atau senja.”
Saat kita menghadapi masa-masa kegelapan spiritual dan sosial di dunia saat ini, mungkin tampak mustahil untuk melihat tangan Tuhan bekerja. Namun, sebagaimana kita ketahui matahari tetap sama dan gerhana akan berlalu, kita bisa tahu bahwa Tuhan kita tidak pernah berubah dan Dia tetap mengendalikan hidup kita.
Selama gerhana, matahari dan bulan tampak berukuran sama. Faktanya, matahari berukuran 400 kali ukuran bulan, dan 400 kali lebih jauh dari kita, yang menjelaskan bagaimana bulan dapat sepenuhnya menghalangi pandangan bola langit yang lebih besar itu. Demikian pula, hal-hal yang sering menghalangi pandangan kita terhadap Tuhan adalah hal-hal yang paling dekat dengan kita. Jika kita mengingatnya dan tetap melihatnya dalam perspektif yang tepat, kita dapat terus percaya kepada Tuhan, bahkan ketika kita tidak dapat melihat-Nya. Kisahnya tentang seorang pendeta yang merasa terganggu melihat seorang bapak tua berpakaian compang-camping datang ke gereja setiap siang, kemudian pergi setelah beberapa menit. Apakah gerangan yang dilakukannya? Pak pendeta memberi tahu penjaga gereja dan memintanya untuk menanyai orang tua itu. Lagipula, ada banyak barang-barang berharga di tempat itu. “Bapak datang untuk berdoa,” kata si bapak tua ketika ditanyai. “Ah yang benar saja,” kata penjaga gereja. “Bapak tidak tinggal di gereja cukup lama untuk berdoa.” “Begini,” katanya, “bapak tidak bisa berdoa panjang-panjang, tetapi setiap hari jam 12.00 bapak datang ke sini dan berkata, ‘Yesus, ini aku Jim’. Setelah itu bapak menunggu sebentar kemudian pergi. Memang doa itu singkat, tetapi bapak yakin Ia mendengar doa bapak.” Keetika Jim terluka dan harus dirawat di rumah sakit, ia membawa pengaruh yang luar biasa di tempat itu. Pasien-pasien yang biasanya terus menerus meng gerutu menjadi lebih gembira dan sering terdengar gelak tawa dari bangsal itu. “Pak Jim,” sapa salah seorang perawat, “saya dengan bapak yang menyebabkan perubahan suasana di sini. Katanya bapak selalu gembira.” “Mungkin ada benarnya, suster,” kata Jim, “bapak memang selalu gembira. Semua itu kerena tamu bapak yang membuat bapak gembira setiap hari.” “Tamu?” tanya suster bingung. Kursi di sisi pem baringan Jim selalu kosong pada jam-jam kunjungan, karena memang Jim hidup sebatang kara, tanpa sanak saudara. “Tamu bapak? Kapan datangnya?” “Setiap hari,” jawab Jim. Matanya berbinar-binar. “Benar, setiap hari jam 12, Dia datang dan berdiri di ujung tempat tidur. Bapak melihat Dia dan Dia tersenyum kemudian berkata, ‘Jim, ini aku Yesus’.” Story courtesy of Activated magazine. Used by permission. Header image designed by Freepik (man) and Vectorpocket/Freepik (background) |
Categories
All
Archives
March 2026
|
||||||||||||||||||||||














RSS Feed