Setiap bangunan memerlukan fondasi yang baik—begitu juga dengan bangunan hidup Anda. Pelajaran-pelajaran dalam program ini adalah “batu fondasi” yang di atasnya Anda dapat membangun rumah dari kehidupan kekristenan Anda.
Setiap batu fondasi mengupas bidang iman, pengetahuan Alkitab atau pengetahuan praktikal, dan hendaknya membawa perubahan yang positif dalam hidup Anda. Perubahan-perubahan ini tidak hanya bermaanfaat bagi Anda tetapi juga bagi mereka yang Anda kasihi, memperlengkapi Anda untuk menolong orang lain.
Sebatang pohon tertimpa angin kencang dan ia tumbang ke tanah yang keras.
Saat menghantam tanah lembap dengan bunyi yang keras—karena sebelumnya tidak pernah menghantam apa pun, hanya bergoyang pelan tertiup angin—ia secara naluriah tahu bahwa ia tidak akan bangkit lagi. Pohon itu terisak, antara sakit, sedih, marah, dan frustrasi. Ia melihat pohon-pohon lain masih berdiri dan menangis. Ia berbaring lama di antara cabang-cabangnya yang patah, terlelap, seolah merenungkan apa yang harus dilakukan dengan tubuhnya yang besar itu. Kemudian, perlahan-lahan ia menumbuhkan beberapa tunas. Tunas-tunas itu tumbuh menjadi ranting, yang kemudian menjadi cabang, semuanya menjulang ke langit, mencoba memulihkan kemampuan alami antena yang dimiliki sebelumnya. Ia melakukan apa yang bisa dilakukannya dan membiarkan waktu untuk melakukan yang selebihnya. Tak lama kemudian, pohon itu menemukan tujuan baru. Anak-anak kecil memilihnya untuk bermain “kuda-kudaan” atau berpura-pura bahwa itu adalah istana; pohon itu menjadi latar foto favorit, taman bermain, dan tempat berlindung. Para pendaki dan tupai sama-sama menggunakannya untuk menjembatani sungai. Maka, pohon itu menemukan kehidupan baru, kehidupan yang bahagia—meskipun sangat berbeda dari yang pernah dikenalnya sebelumnya—dan ia menyadari bahwa inilah takdirnya.
Hujan turun deras sejak saat itu, dan pohon tumbang itu masih tergeletak di tanah, memperlihatkan cabang-cabangnya. Lumut telah menutupi luka-luka akibat tumbangnya. Seiring waktu, lumut telah menjadi elemen lanskap yang indah dan penting, sedemikian rupa sehingga para pembangun taman mempertimbangkannya saat mereka merancang taman tersebut.
Sesekali pohon itu mengenang dan berpikir, lalu ber syukur atas hari ketika takdir melampiaskan amarahnya. Meskipun ia takkan pernah kembali seperti dulu, atau seperti pohon-pohon lainnya, ia merasa puas, mengetahui bahwa ia telah menemukan tempat dan perannya sendiri, dan bahwa masa depannya ada di tangan Sang Pencipta. Mungkinkah ini juga kisah kita? Meskipun hidup kita biasanya tidak berjalan seperti yang kita harapkan, hasilnya mungkin akan lebih kaya, lebih mendalam, dan lebih bermakna saat kita membiarkan Tuhan menggunakan badai sesuai kehendak-Nya. Tuhan mendapatkan beberapa kemenangan terbesar dari kekalahan kita.
Pernahkah Anda menaruh sebatang seledri di dalam air yang diberi warna? Yang terjadi adalah seledri mulai berubah warna ketika air terendam melalui batang. Dibutuhkan beberapa hari untuk melihat perubahannya, tetapi segera batang seledri akan berwarna seperti air yang merendamnya. Seledri juga dengan sangat cepat menyerap racun dan pestisida apa pun di udara atau di tanah. Roh kita juga bekerja dengan cara seperti ini. Sumber makanan atau masukan kita, dan apa pun yang kita paparkan pada diri kita sendiri, akan mempengaruhi kita, menjadi lebih baik atau lebih buruk. Kita terus menerus dibanjiri dengan masukan—melalui Internet, film, musik, buku, dan tentu saja, melalui orang yang dengannya kita berinteraksi. Namun, bagaimana hal-hal itu mempengaruhi kita tidak selalu sejelas efek air pada seledri. Beberapa hal tampaknya tidak berbahaya, atau bahkan baik, tetapi pada akhirnya dapat memiliki efek negatif. Hal-hal lain mungkin benar-benar menyenangkan dan tidak berbahaya—bahkan dapat memberi masukan untuk pikiran dan meningkatkan keterampilan dan pengetahuan kita. Tetapi masukan tersebut mungkin masih belum cukup untuk memberi makan roh kita dengan substansi yang dibutuhkan untuk berkembang.
Itulah sebabnya mengapa Yesus mengatakan agar tinggal di dalam Dia, menjadikan Dia sumber kita. Dia menawarkan untuk menyirami hidup—satu-satunya air yang akan membuat roh kita tidak akan pernah haus lagi. Mazmur pertama mengatakan bahwa mereka yang bergembira di dalam jalan Tuhan dan Firman-Nya “seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” (Mazmur 1:3)
Marilah kita menanam akar kita dengan kokoh pada sungai yang mengalirkan air hidup.
Perumpamaan Yesus untuk anak-anak yang lebih besar.
|
Categories
All
Archives
June 2026
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||




RSS Feed